Pemuda dan Integritas
72
tahun sudah Indonesia merdeka. Namun masih jauh dengan kesejahtraan yang di
impikan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Seperti termuat dalam tujun Negara pada alenia ke-IV pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945. Tapi kenapa cita-cita tersebut seakan sangat sulit untuk
diwujudkan?

Saya
tidak akan membahas masalah sistem yang ada dan pernah dijalankan di negri ini
namun saya lebih melihat pada orang-orang yang menjalankan system tersebut. Percuma
sesempurna apapun system yang dibuat namun pada pelaksanaannya terjadi banyak
ketidak sesuaian yang disebabkan human
error. Untuk itu saya lebih menitik beratkan pada SDM yang berintegritas
untuk siap menjalankan system yang ada pada bangsa ini.
Apabila
terjadi sebuah kebakaran maka pemadam kebakaran akan berusaha memadamkan pada
bagian api yang berpotensi untuk menjalar atau melebar kewilayah yang lain,
biasanya dilihat pada sisi terluar api terseut. Kata ‘potensi’ tersebut menurut
saya seperti para pemuda tunas bangsa ini. Di pundak para pemudalah
nasib bangsa ini kedepannya. Untuk itu bangsa ini perlu para pemuda tangguh dan
memiliki integritas yang baik.
Mengenai
Integritas dan kejujuran saya teringat sebuah kisah seorang petani miskin yang
diceritakan kembali oleh Muhamad Muhajirin (2012:599) dalam Muhadam Labolo (2013:28)
Kekosongan Etikalitas Pemerintahan. Kisah ini konon terjadi disebuah desa di
Filipina beberapa puluh tahun lalu. Carlos, demikianlah kira-kira nama petani
tersebut. Carlos adalah petani miskin yang hanya memiliki sebidang tanah yang
tidak terlalu luas. H asil pertanian yang tidak memadai setiap tahun membuat ia
mesti berhutang untuk membiayai hidup keluarganya. Pendek cerita, Carlos
terlilit hutang sebesar 100 peso. Ditambah dengan bunganya, hutang carlos total
menjadi 150 peso. Sang rentenir mengancam carlos akan mengambil alih lahannya
apabila carlos tidak bisa melunasi hutang-hutangnya. Carlos sangat kebingungan
apabila lahannya disita rentenir maka sirnalah semua harapannya, sebab taka ada
lagi lahan yang bisa menopang kehidupan keluarganya.
Carlos
telah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya, namun semua itu sia-sia
belaka. Maklum, warga desa pada dasarnya hidup tak jauh berbeda dari Carlos,
miskin dan lemah secara ekonomi. Namun ditengah kegelisahan itu Carlos masih
ingat pada Tuhan. Carlos berfikir kenapa ia tidak minta tolong saja kepada Tuhan.
Bukankah ia maha penolong kepada siapapun yang meminta kepada-Nya? Demikianlah
pikiran Carlos yang polos disuatu malam. Tapi bagaimana Tuhan cepat mendengar
dan mengabulkan permintaan ku? Carlos kembali bingung. Akhirnya setelah lama
merenung, setitik ide cemerlang muncul dalam benak Carlos. Ia rupanya
berkehendak mengirim surat kepada Tuhan.
Kemudian ia menulis surat kurang lebih sebagai berikut ; Kepada, Tuhan Yang
Maha Pengasih di Tempat. Wahai Tuhan,… Aku
Carlos, hamba-Mu yang sedang didera kesusahan akibat hutang kepada rentenir
sebesar 150 peso. Bila aku tak segera melunasi hutang tersebut, kehidupan
keluarga ku akan hancur akibat tak ada lagi lahan untuk mencari nafkah. Karena
itu, aku mohon kirimkan lah aku uang 150 peso ya Tuhan, bukankah engkau Maha
menolong hamba-Mu yang sedang kesusahan. Hormat ku,.. Carlos.
Singkat
kata, Carlos pun mengirimkan surat tersebut lewat kantor pos. Dia tidak mencantumkan
alamat apapun selain kalimat “Kepada Tuhanku di Tempat”. Dia berfikir bahwa
orang kantor pos pasti lebih tau dimana alamat Tuhan. Tentu saja dia yakin
tidak akan kesasar sebagaimana surat Ayu Ting-Ting di Indonesia yang jatuh ke
alamat palsu. Para petugas Kantor Pos pun jadi heran bercampur geli melihat
sampul sursat Carlos. Akhirnya karena penasaran mereka pun membukanya dan
membaca isi surat tesebut. Mereka menjadi terharu ketika membaca isi surat
Carlos. Karena merasa iba, para petugas Kantor Po situ memutuskan untuk
membantu kesulitan Carlos. Mereka pun patungan dan terkumpullah uang sebanyak
200 peso. Kemudian uang tersebut mereka masukan kedalam amplop dan dikirim ke
alamat Carlos. Tak lupa di dalamnya mereka sisipkan secarik kertas dengan tulisan,
“Dari Tuhan, Untuk Carlos yang sedang dalam kesulitan”. Carlos tentu saja
senang bukan kepalang karena merasa doanya dikabulkan Tuhan.
Namun
beberapa hari kemudin datang lagi surat dari Carlos yang bunyinya,.. Kepada
Tuhan Yang Maha Pengasih di Tempat, Wahai Tuhan, terimakasih atas kiriman
uangnya sebesar 200 peso. Tapi, seingatku, aku hanya meminta 150 peso. Ini aku
kembalikan sisa yang 50 peso karena aku belum membutuhkannya. Para petugas
Kantor Pos saling tersenyum kagum melihat kejujuran Carlos, sebab jarang
ditemui orang jujur seperti dia di dunia ini.
Kisah ini menginspirasi kita bagaimana seorang petai miskin yang sangat membutuhkan uang masih bisa berlaku jujur. Bagaimana dengan kita? Mungkin kehidupan kita jauh lebih berkecukupan disbanding Carlos namun kalau kita tidak memiliki integritas dan kejujuran yang tertanam dalam diri kita maka akan terus merasa kekurangan sebagaimana sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Untuk itu para pemuda tunas bangsa ini hendaklah belajar dari kisah Carlos tersebut. Tanamkan kejujuran, integritas serta rasa bertanggung jawab dalam menjalankan tugas nantinya. Jangan biarkan hanya karena tahta dan harta dapat menutup mata hati kita.

Comments
Post a Comment