Pemuda, Tonggak Kemajuan Bangsa
Perkembangan era globalisasi yang kian pesat membuat perubahan sangat signifikan terjadi diberbagai bidang. Berdasarkan pernyataan tersebut sering kita dengar rumus sederhana yang berbunyi "siapa yang tidak mau/mampu untuk mengikuti setiap perkembangan perubahan yang semakin pesat terjadi maka prilaku tersebut akan membuatnya perlahan tertinggal dan akhirnya ditinggalkan". Manusia yang hidup pada zaman ini sangat dituntut untuk memiliki pemikiran kritis namun tetap harus berani untuk mencoba menerapkan ide-ide kreatifnya agar dapat menghasilkan sesuatu yang baru dan dapat bersaing.
Dewasa ini di kota-kota besar di Indonesia persaingan sangat luarbiasa terjadi. Tidak hanya dengan tetangga rumah, teman sekampus, maupun juga yang lainnya sesama Warga Negara Indonesia, namun juga dengan Warga Negara Asing. Berdasarkan data dari Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing (PPTKA) Kemenaker diketahui bahwa TKA yang bekerja di Indonesia pada 2017 tercatat sebanyak 85.974 orang. Tentunya hal tersebut menjadi tantangan besar bagi Tenaga Kerja Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, tantangan utama bagi bangsa ini adalah bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang handal dan mampu bersaing minimal ditataran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Apabila kita sederhanakan lagi bahwa, pemeran utama terletak pada para pemuda Indonesia. Para pemuda mendapatkan tantangan yang cukup berat dengan persaingan global dan sangat terbuka seperti sekarang ini. Apakah kita semua siap menghadapinya?
Apakah kita siap? atau kalian siap? atau kita semua siap? atau kesiapan ini hanya untuk masyarakat yang berada diperkotaan dan sudah mendapatkan berbagai akses kemudahan/fasislitas?
Sebagai seorang yang tinggal di Desa, sedikitbanyaknya saya mengetahui bagaimana kondisi dan perjuangan para anak muda Desa dalam bertahan hidup dan menggapai impinannya. Terbatasnya akses informasi (jaringan internet yang tidak stabil dan kadang hanya berada dijaringan Edge), sarana-prasana dan fasilitas yang menunjang keterampilan atau bakat, serta lembaga-lembaga atau organisasi yang dapat menjadi wadah untuk mengembangkan potensi maupun keterampilan.
Kultur budaya akademis yang cukup minim, terlebih menyebabkan serangan budaya kurang baik dari luar yang menyerang masuk dapat dengan mudah membuat luntur dan tergerusnya budaya lokal. Dengan minimnya budaya akademis tersebut sehinnga otomatis nilai-nilai spiritual agama yang menjadi tameng terakhir, dan hal tersebut masih belum disadari seutuhnya oleh masyarakat khususnya para pemuda Desa.

Namun disisi lain, tidak sedikit kita dengar kisah para orang-orang besar yang dulunya berasal dari Desa. Itu berarti dengan kita yang berada di Desa bukan menutup peluang kita untuk dapat menggapai mimpi-mimpi kita, tetapi harus kita jadikan sebagai sebuah pelecut semangat kita untuk bersaing dan terus maju.
Dengan tulisan yang singkat ini saya ingin mengajak para pamuda-pemudi yang berada di Desa untuk membuka mata kita, lebih peka dengan perkembangan zaman yang begitu pesat terjadi diluarsana. Mulailah persiapkan diri dari sekarang, sebisa mungkin manfaatkan kesulitan-kesulitan yang dialami di Desa sebagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Terus bejuang dan berusaha.. karna kita semua memiliki peluang yang sama untuk berhasil dan sukses !
Semoga bermanfaat...
Dewasa ini di kota-kota besar di Indonesia persaingan sangat luarbiasa terjadi. Tidak hanya dengan tetangga rumah, teman sekampus, maupun juga yang lainnya sesama Warga Negara Indonesia, namun juga dengan Warga Negara Asing. Berdasarkan data dari Direktorat Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing (PPTKA) Kemenaker diketahui bahwa TKA yang bekerja di Indonesia pada 2017 tercatat sebanyak 85.974 orang. Tentunya hal tersebut menjadi tantangan besar bagi Tenaga Kerja Indonesia.Sejalan dengan hal tersebut, tantangan utama bagi bangsa ini adalah bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang handal dan mampu bersaing minimal ditataran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Apabila kita sederhanakan lagi bahwa, pemeran utama terletak pada para pemuda Indonesia. Para pemuda mendapatkan tantangan yang cukup berat dengan persaingan global dan sangat terbuka seperti sekarang ini. Apakah kita semua siap menghadapinya?
Apakah kita siap? atau kalian siap? atau kita semua siap? atau kesiapan ini hanya untuk masyarakat yang berada diperkotaan dan sudah mendapatkan berbagai akses kemudahan/fasislitas?
Sebagai seorang yang tinggal di Desa, sedikitbanyaknya saya mengetahui bagaimana kondisi dan perjuangan para anak muda Desa dalam bertahan hidup dan menggapai impinannya. Terbatasnya akses informasi (jaringan internet yang tidak stabil dan kadang hanya berada dijaringan Edge), sarana-prasana dan fasilitas yang menunjang keterampilan atau bakat, serta lembaga-lembaga atau organisasi yang dapat menjadi wadah untuk mengembangkan potensi maupun keterampilan.
Kultur budaya akademis yang cukup minim, terlebih menyebabkan serangan budaya kurang baik dari luar yang menyerang masuk dapat dengan mudah membuat luntur dan tergerusnya budaya lokal. Dengan minimnya budaya akademis tersebut sehinnga otomatis nilai-nilai spiritual agama yang menjadi tameng terakhir, dan hal tersebut masih belum disadari seutuhnya oleh masyarakat khususnya para pemuda Desa.

Namun disisi lain, tidak sedikit kita dengar kisah para orang-orang besar yang dulunya berasal dari Desa. Itu berarti dengan kita yang berada di Desa bukan menutup peluang kita untuk dapat menggapai mimpi-mimpi kita, tetapi harus kita jadikan sebagai sebuah pelecut semangat kita untuk bersaing dan terus maju.
Dengan tulisan yang singkat ini saya ingin mengajak para pamuda-pemudi yang berada di Desa untuk membuka mata kita, lebih peka dengan perkembangan zaman yang begitu pesat terjadi diluarsana. Mulailah persiapkan diri dari sekarang, sebisa mungkin manfaatkan kesulitan-kesulitan yang dialami di Desa sebagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Terus bejuang dan berusaha.. karna kita semua memiliki peluang yang sama untuk berhasil dan sukses !
Semoga bermanfaat...

Comments
Post a Comment